Oleh : Thomas Suryono – Acintyacunyata Spelological Club Yogyakarta – 2013
Kegiatan penelusuran gua makin marak di Indonesia. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh para penggiat yang notabene menelusuri gua-gua dengan bekal ketrampilan dan pengetahuan khusus, tapi juga makin banyak di gemari wisatawan umum karena dibukanya banyak obyek wisata penelusuran gua. Apapun bentuk guanya dan siapapun pelaku kegiatan, penelusuran gua tetap mempunyai risiko. Gua tetap merupakan sebuah lingkungan yang tertutup, dengan cahaya yang sangat minim jika tidak bisa disebut zero, mempunyai “micro climate” sendiri, medan yang sangat bervariasi baik horisontal, vertikal, berair, merayap, merunduk, memanjat dan masih banyak lagi.
Ada satu hal yang perlu dipahami oleh para penggiat kegiatan ini, selain bahaya didalam gua, risiko kegiatan ini juga memiliki ancaman karena pengaruh lingkungan permukaannya. Gua yang ditelusuri pada umumnya berada di daerah karst, yaitu daerah yang tersusun dari batuan kapur, yang sudah mengalami proses pelarutan sehingga membentuk sebuah bentang alam baik permukaan maupun dibawah permukaan yang spesifik. Dapat mudah dipahami bahwa proses terbentuknya gua sangat tergantung dengan aktifitas hidrologi, dibumi ini aktifitas hdrologi terekam dalam sebuah siklus Hidrologi. Continue Reading →
ayah dengan jumlah gua yang cukup banyak, atau gua yang memiliki hubungan dengan gua yang lain. Kita juga bisa menampilkan data gua di Google earth, sehingga kita bisa mengetahui morfologi dari gua yang sudah kita eksplorasi (Hal ini sangat-sangat-sangat bermanfaaat untuk kita menganalisis hubungan antara morfologi dengan bentukan lorong gua)


































